Uraian sang pujangga…

Seperti perkataan kahlil ghibran,
“namun kenangan adalah daun musim gugur yang bergumam diantara angin,, kemudian tidak terdengar lagi”
Namun angin sempat merekam gumaman
Yang menjadikan nyanyian musim gugur, tetap terdengar!

Bagi mereka yang terhanyut oleh masa lalu, bagi mereka yang
Tidak ingin terjaga dari mimpi indah yang panjang dan melelahkan.
Dan, atau bagi mereka yang terperangkap dari masa lalu yang pilu,
Mencoba keluar atau memilih untuk tinggal?

Dan keputusan itu segera layaknya matahari terbit harus dipagi hari, dan
Terbenam kala senja, dan bintang serta bulan enggan muncul diterik siang.
Dan keputusan itu hanya mengukuhkan kesedihan yang akan
Berlangsung sampai batas kesadaran, tuk lepaskan bayang-bayang kenangan.
Apakah mampu…?

Dan daun itu harus gugur walau angin tak mendera,
Dan embun murka kepada mentari pagi.
Daun gugur bersama batas waktu tuk tetap menjadi bagian kehidupan,
Dan terjatuh mengakhiri hidup tanpa angin ataupun embun
Jika pohon-pohon tak memberi cinta lagi, dan hujan memaksa
Tuk m
erangkai cerita lagi bersama daun-daun yang baru.
Apakah pohon-pohon dan hujan telah berselingkuh
Dengan merangkai cerita dan kehidupan baru?
Kemanakah “daun gugurku” yang tega meninggalkan pohonnya?
Mungkin, tanyakan saja pada musim semi bukankah selalu begitu?
Pohon-pohon bersama musim-musim dan cerita yang berbeda,
Pada musim gugur, dingin, semi dan panas, daun-daun hanya
Ditakdirkan untuk sementara menemani pohon-pohon dan mati.
“daun gugurmu” pergi, jauh dan mati seperti apa yang seharusnya terjadi.
Bukankah matahari terbit harus dipagi hari? Kau kan memiliki
Seribu pengganti setelah melewati malam, tak perlu merasa kehilangan!
Tiada yang tak tega jika harus meniti takdir.

Musim semi, panas, gugur, dan dingin memiliki cerita masing-masing,
Bagaimana aku bertanya pada musim semi jika ia menyalahkan musim dingin,
Musim dingin murka kepada musim gugur,
Musim gugur mengeluh kepada musim panas,
Serta musim panas yang teramat benci kepada musim semi.
Aku tak kehilangan, tak juga bersedih,
Ini aku dengan hidupku,
Dengan ceritaku,
Dengan cintaku,
Dengan citaku dan keapaadaan aku,
Ini aku dan kau tau.
Hanya musim semi yang tau apakah pohon-pohon berselingkuh,
Jika dingin, pohon-pohon hanya bermimpi akan kehangatan
Daun-daun disaat semua beku.
Jika panas, daun-daun masih menemani dan belum terganti,
Jika gugur,,,Ah kau pun tau daun-daun telah mati dan takkan mengerti.
Mungkin hanya berguman bahwa pohon-pohon harus menjalani cerita yang baru.
Mengikuti waktu, batas-batas musim, lalu hilang diantara angin,
Tak terdengar lagi.

Aku bahkan tak mengerti tentang ceritaku, tentang pemahamanku akan
Cerita yang kujalani, namun kuharap ada cinta dan cita.
Bagaimana ku tau tentangmu, bahkan tiada angin yang berbisik ditelingaku.

Hanya, Cuma, Sekedar,
Tidak banyak, Tak seberapa, Sedikit,
Setetes, Secuil, Secarik,
Seulas, Belum apa-apa, Belum seberapa,
Ah…sudahlah,
Lupakan…!