Hati-hati dalam Berkendaraan: Titik rawan kecelakaan di Kuamang-kuning

November 5, 2009 Amilia Putri 1 comment

kecelakaan di jembatan kembar 2009Beberapa saat yang lalu, kuamang kuning SPA, Jambi digegerkan oleh rentetetan kejadian kecelakaan akibat kendaraan. Baik kendaraan roda dua (sepeda motor) maupun kendaraan roda empat (mobil). Yang namanya kecelakaan, dimana-mana juga pasti membuat geger warga. Tidak sedikit warga yang pengen nonton apa yang terjadi.

Dampak dari kecelakaan pun beragam. Korban ada yang mengalami luka ringan, luka sedang, luka berat, bahkan hingga mengalami kematian. Tapi tidak sedikit juga yang selamat alias sehat wa-alfiat, tidak terkena luka apa-apa, tapi yang namanya kecelakaan, tetap saja, motornya rusak. Bahkan ada juga mobilnya yang jadi rongsokan. Karena mobilnya ringsek, hancur tinggal separo, demikian ungkap salah satu teman sambil bergurau.

Jika kita amati, angka kecelakaan kendaraan bermotor di Indonesia memang tergolong sangat tinggi. Hampir tiap jam bahkan tiap menit ada peristiwa kecelakaan akibat kendaraan bermotor.

Jalan raya rawan kecelakaan di kuamang-kuning
Sebagai kota yang sedang berkembang, kuamang kuning pun kini menjelma menjadi kota impian bagi siapa saja. Jalanan yang mulus, diaspal dan asri (dengan sedikit lengang pada jam-jam tertentu), menjadi pemicu bagi pengendara bermotor untuk ngebut alias tancap gas. Alhasil, sikap tancap gas gaya valentino rossi inilah yang menyebabkan terjadinya kecelakaan.

Berikut adalah jalanan yang sering jadi langganan terjadinya kecelakaan dikuamang kuning. Jalanan dikuamang kuning ini mungkin masih belum lengkap. Apalagi yang namanya kecelakaan memang tidak pernah pandang bulu. Jalanan apapun bisa terjadi kecelakaan.

1. Tikungan suling unit 14. Lokasi tikungan persisnya, kira-kira pertengahan antara unit 9 dan unit 14. Dinamakan suling karena tikungannya berbentuk suling, dan konon katanya pada medio tahun 1990an, ada pemain musik dangdut (suling) yang meninggal disana akibat kecelakaan.

2. Turunan-Tanjakan TSM unit 9. Lokasi persisnya sekitar 400 meter dari jalan Tanjung unit 9 kearah muara bungo.

3. Tikungan Balai Desa Unit 9 (jalan anggrek). Lokasi persisnya tepat disamping kiri kantor balai desa unit 9.

4. Tikungan batak unit 9. Lokasi persisnya perbatasan antara unit 9 dengan unit 10. dinamakan tikungan batak, karena didaerah tersebut banyak dihuni oleh orang keturunan suku batak (bukan rasis-red).

5. Tikungan KUD unit 10. Lokasi persisnya setelah kantor KUD unit 10 ada tikungan yang sekaligus turunan kearah SPA. Bagi warga unit 10, tempat ini bukan tempat biasa. tetapi tempat yang Luar biasa karena hampir tiap tahun memakan korban.

Read more…

Categories: Kehidupan sosial

Ajang Bujang-Gadis dalam Upaya Menambah Wawasan Tentang Kebudayaan Daerah

October 26, 2009 Amilia Putri 5 comments

Bujang Gadis_2008Oleh : Amilia Putri
Mahasiswi Ilmu Komunikasi, FISIP Universitas Sebelas Maret Surakarta, putra daerah Bungo.

Akhir bulan Oktober ini, Ajang Bujang-Gadis Bungo akan di mulai. Ajang ini diadakan dalam rangka Pekan Pesona Budaya Bungo 2009. Partisipan dalam ajang ini adalah perwakilan dari pribadi, daerah atau institusi pendidikan, seperti perwakilan dari Universitas dan Sekolah Menengah Atas. Tahun lalu, tepatnya akhir bulan November, penulis terpilih menjadi perwakilan Gadis dari SMA Negeri I Pelepat Ilir. Deretan schedule dimulai dengan wawancara tentang wawasan para perwakilan calon finalis Bujang Gadis tersebut. Mulai dari wawasan tentang kebudayaan di sekitar tempat tinggal yang terdiri dari masyarakat pluralis, sampai kebudayaan asli kabupaten Bungo serta secuil tentang kepemerintahannya. Dalam ajang seperti ini memang dituntut untuk mengetahui semua aspek dalam kabupaten bungo. Karena yang menjadi Bujang dan Gadis Bungo akan mewakili daerahnya ke ajang tingkat provinsi, jadi kualitas adalah nomor satu, the quality of brain, beauty, behaviour, and body, I think.
Berbicara mengenai kualitas, memang sudah seharusnya generasi muda bangsa mengetahui kebudayaan tanah kelahiran, tanah tempat tumbuh, hidup dan berkarya. Agar kita lebih mengenal habitat tempat kita tinggal, kita tidak hanya menyatu dengan variatifnya masyarakat, tetapi juga menyatu dengan kebudayaan daerah tersebut.
Ajang Bujang Gadis dapat dijadikan jalan untuk menggerakkan minat kaum muda terpelajar yang berpartisipasi dalam ajang ini untuk menambah wawasan tentang daerahnya. Tidak hanya mengetahui, setidaknya sedikit tambahan tentang kebudayaan, tetapi juga semakin meluas ke kebudayaan dalam suatu provinsi yang mencakup beberapa kabupaten. Kemudian kebudayaan nasional Indonesia, serta wawasan yang mengglobal, tentang dunia Internasional. Read more…

Categories: Sisi lain

Harapan dari Rakyat…

October 24, 2009 Amilia Putri 1 comment

"SBY BERBUDI"Pengantar Ilmu Politik I
Nama : Amilia Putri
Prodi : Ilmu Komunikasi (FISIP) UNS
Setelah audisi menteri kemarin, banyak yang mengkritik dan menghujat SBY dalam penempatan pos menteri yang mayoritas diisi oleh partai koalisi. Bahkan masih ada yang demo menolak pemerintahan presiden terpilih SBY dan wakil presidennya, Boediono beserta susunan kabinet Indonesia Bersatu II di hari pengesahan kabinet baru beberapa waktu lalu di berbagai institusi pendidikan.
Saya berpendapat dalam hal ini, yaitu pos menteri yang merupakan jabatan politik, sehingga wajar-wajar saja jika diisi oleh aktivis politik yang berasal dari partai koalisi. Yang diperlukan sebagai calon menteri bukan hanya sekedar profesional dan mengerti tentang seluk-beluk jabatan yang akan di amanatkan, tetapi juga harus memiliki kepemimpinan, dan kemampuan memanajemen. Dan hal ini, sudah sesuai dengan para aktivis politik yang memang sudah terbiasa dalam hal kepemimpinan dan manajemen. Karena seorang profesional belum tentu memiliki kredibilitas dan juga amanah akan tugas yang diembannya. Calon menteri juga harus teruji kualitas kemoralannya dan memiliki kemampuan memimpin, selain keprofesionalisme-annnya.
Dan tidak seharusnya kita merongrong pemerintahan yang baru dibentuk dengan mendemonya, seakan-akan masih meragukan keterpilihannya. Bukankah Indonesia merupakan negara demokrasi yang menghargai hak-hak warga negara atas apa yang mereka tentukan untuk negara ini, dan pertanyaan tersebut terjawab dengan terpilihnya kembali SBY sebagai presiden di periode kedua ini. Walaupun sepertinya tidak masuk akal, dengan begitu ramainya masyarakat yang menjadi tidak simpati padanya dengan alasan masing-masing namun ternyata masih tetap mendapatkan suara mutlak pada pemilu yang lalu sehingga tidak perlu ada pemilu dua putaran.
Saya berharap kabinet yang sekarang bisa lebih mengemban amanah rakyat dan membuktikan pada kelompok-kelompok yang tidak respek pada mereka dengan suatu bukti kecil akan kemajuan di bidang tertentu dalam 100 hari awal perjalanan pemerintahan kabinet Indonesia Bersatu II ini. Marilah kita bersama-sama memberikan aura yang positif untuk bangsa ini. Saya pribadi cukup lelah dan bosan dengan hanya mendengarkan kenyataan bahwa bangsa ini terus-menerus memberikan aura negatif, yang pada akhirnya hanya menambah keterpurukan bangsa. Sudah terlalu sering rakyat dan pemimpin negara ini mengeluarkan statement-statement yang negatif, yang hanya akan menambah nilai negatif bangsa ini dimata semua orang. Yang hanya bisa membantu dengan doa, berdoalah untuk kebaikan bangsa ini kedepannya. Biarlah mereka yang terpilih untuk memimpin, mengurus bangsa ini, semoga segala urusannya yang menyangkut kepentingan bangsa ini diberi kemudahan. Amiin..

Longlive Indonesia…!

Categories: Sisi lain

KOMUNIKASI FATIK DI DALAM KOMUNITAS HUNIAN LIAR DI WILAYAH SURAKARTA

October 19, 2009 Amilia Putri 1 comment

Rumah KumuhOleh : Amilia Putri
Mata Kuliah Pengantar Ilmu Komunikasi
Prodi S1 Ilmu Komunikasi
Fakultas Ilmu Sosial dan Politik
Universitas Sebelas Maret

TEMA MAKRO : Komunikasi Fatik di Dalam Komunitas Hunian Liar di Wilayah Surakarta

TEMA MIKRO : Komunikasi Fatik di Dalam Komunitas Hunian Liar di Wilayah Surakarta, Tepatnya di Pinggiran Kali Anyar

LATAR BELAKANG MASALAH
Komunikasi sangat lekat terhadap kehidupan sehari-hari. Tanpa komunikasi kita akan sulit untuk melakukan sosialisasi. Tidak hanya itu, seorang individu yang tidak melakukan komunikasi terhadap individu lain atau lingkungan sekitar akan merasa tidak nyaman dengan diri sendiri atau bahkan merasa terasing.
Menurut teori empirisme, konsep diri terbentuk berdasarkan atas pengaruh eksternal, yaitu lingkungan. Variatifnya lingkungan jika ditinjau dari segi kualitasnya berdasarkan pada tingkat pendidikan dan juga kebudayaan, tercermin dari cara berkomunikasi di dalam komunitas tersebut. Serta turut andil dalam membentuk individu baru yang masuk ke dalamnya.
Sebenarnya dalam hidup bermasyarakat, intensitas pertemuan untuk melakukan interaksi atau komunikasi tidak harus dipaksakan. Secara sadar atau tidak, kita sering mengucapkan sapaan-sapaan ringan kepada orang yang kita temui seperti “Selamat pagi,” “Halo,” “Apa kabar?” atau hanya sekedar menganggukkan kepala, melambaikan tangan dan menanyakan keadaan keluarga. Hal tersebut dilakukan setidaknya untuk mengakui keberadaan orang lain atau menunjukkan bahwa kita ramah. Komunikasi itulah yang disebut komunikasi fatik.
Komunikasi fatik berfungsi sebagai mekanisme untuk menunjukkan ikatan sosial dengan orang yang bersangkutan tanpa membedakan tingkat pendidikan. Komunikasi berhasil dilakukan jika pesan yang disampaikan komunikakator dapat dipahami dan dimengerti oleh lawan bicara, komunikan.
Seringkali komunikasi terganggu oleh persoalan bahasa, kata-kata yang sama mungkin mempunyai arti yang berbeda-beda bagi orang yang berbeda-beda. Persoalan bahasa lainnya ialah masalah logat daerah(in-group language) yang bersifat sangat teknik. Bahasa tersebut dapat memberikan kepada para anggotanya perasaan ikut memiliki, kesatupaduan, perasaan harga diri. Sehingga bahasa tersebut memudahkan komunikasi yang efektif dalam kelompok. Tetapi penggunaan bahasa dalam kelompok ini dapat menimbulkan kemacetan yang parah apabila orang luar atau kelompok lain terlibat di dalamnya. Perbedaan status juga dapat menimbulkan ancaman bagi seseorang yang lebih rendah kedudukannya dalam hierarki, yang dapat meyimpangkan komunikasi.

RUMUSAN MASALAH
Adakah kendala dalam berkomunikasi di dalam komunitas hunian liar (tepatnya di daerah Kandang Sapi pinggiran kali Anyar)?

TUJUAN
Melakukan observasi tentang komunikasi fatik di dalam hunian liar
Mengetahui tingkat kelancaran komunikasi di daerah hunian liar
Mengetahui cara berkomunikasi di derah hunian liar
Mengetahui apakah teori Behaviourisme turut andil dalam proses berkomunikasi yang efektif di dalam komunitas hunian liar
Read more…

Categories: Sisi lain

Peran Strategis Mahasiswa Ilmu Komunikasi dalam Menyikapi Masalah Tayangan Sinetron di Televisi Swasta Indonesia

October 2, 2009 Amilia Putri Comments off

no_tv__by_gnatoOleh: Amilia Putri
(Mahasiswa Ilmu Komunikasi FISIP UNS)

Permasalahan tayangan sinetron di Indonesia sekiranya bukanlah masalah yang baru. Sudah lebih dari puluhan tahun negeri ini disuguhkan oleh berbagai tayangan sinetron, terutama sinetron di televisi swasta nasional. Tanpa menyebut judul sinetron yang ditayangkan, yang pasti mulai dari tayangan sinetron yang bertemakan percintaan, bertemakan kekerasan (adegan kekerasan), memperlihatkan kegemerlapan gaya hidup mewah, bahkan pada saat bulan Ramadhan seperti saat ini, sinetron bertemakan religi (keagamaan) marak ditayangkan dimana-mana. Seakan-akan menjadi tontonan formalitas yang patut disuguhkan bagi masyarakat Indonesia yang memang haus akan hiburan.

Namun, dari waktu ke waktu belumlah ada solusi yang menunjukkan ke arah perbaikan. Beberapa keluarga ada yang memilih meniadakan televisi di rumah untuk ‘mengamankan’ keluarga dari tayangan-tayangan yang dianggap kurang mendidik, ada yang mengatur jadwal-hanya jam-jam tertentu saja dinyalakan-dan ada yang pada akhirnya memilih masa bodoh (apatis).

Lantas, apa yang salah? Mengapa hal ini pantas diangkat menjadi masalah? Sebagai mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi, tentunya kita patut berpikir kritis menanggapi masalah tayangan sinetron tersebut. Menurut harian Kompas pada medio Juli 2009 yang lalu, bahwa maraknya tayangan sinetron di televisi swasta Indonesia kini rupanya mulai meresahkan para orang tua, terutama bagi orang tua yang memiliki anak yang sedang beranjak dewasa. Mulai dari sajian acara yang kurang mendidik sampai persoalan jam tayang sinetron yang kurang tepat. Jika taat pada peraturan, memang seharusnya semua tayangan yang hadir di televisi melewati badan sensor. Namun, kita sendiri tahu, ada berapa banyak stasiun televisi di Indonesia dan semuanya tayang hampir 24 jam dalam sehari semalam. Kita dapat membayangkan, kapan waktu untuk menyensor semua tayangan itu? Kondisi ini pada akhirnya memungkinkan banyak tayangan-tayangan yang tidak disensor terlebih dahulu sebelum ditayangkan. Sensor langsung dari masyarakatlah yang seharusnya bisa mengontrol kualitas tayangan-tayangan tersebut.

Read more…