KOMUNIKASI FATIK DI DALAM KOMUNITAS HUNIAN LIAR DI WILAYAH SURAKARTA
Oleh : Amilia Putri
Mata Kuliah Pengantar Ilmu Komunikasi
Prodi S1 Ilmu Komunikasi
Fakultas Ilmu Sosial dan Politik
Universitas Sebelas Maret
TEMA MAKRO : Komunikasi Fatik di Dalam Komunitas Hunian Liar di Wilayah Surakarta
TEMA MIKRO : Komunikasi Fatik di Dalam Komunitas Hunian Liar di Wilayah Surakarta, Tepatnya di Pinggiran Kali Anyar
LATAR BELAKANG MASALAH
Komunikasi sangat lekat terhadap kehidupan sehari-hari. Tanpa komunikasi kita akan sulit untuk melakukan sosialisasi. Tidak hanya itu, seorang individu yang tidak melakukan komunikasi terhadap individu lain atau lingkungan sekitar akan merasa tidak nyaman dengan diri sendiri atau bahkan merasa terasing.
Menurut teori empirisme, konsep diri terbentuk berdasarkan atas pengaruh eksternal, yaitu lingkungan. Variatifnya lingkungan jika ditinjau dari segi kualitasnya berdasarkan pada tingkat pendidikan dan juga kebudayaan, tercermin dari cara berkomunikasi di dalam komunitas tersebut. Serta turut andil dalam membentuk individu baru yang masuk ke dalamnya.
Sebenarnya dalam hidup bermasyarakat, intensitas pertemuan untuk melakukan interaksi atau komunikasi tidak harus dipaksakan. Secara sadar atau tidak, kita sering mengucapkan sapaan-sapaan ringan kepada orang yang kita temui seperti “Selamat pagi,” “Halo,” “Apa kabar?” atau hanya sekedar menganggukkan kepala, melambaikan tangan dan menanyakan keadaan keluarga. Hal tersebut dilakukan setidaknya untuk mengakui keberadaan orang lain atau menunjukkan bahwa kita ramah. Komunikasi itulah yang disebut komunikasi fatik.
Komunikasi fatik berfungsi sebagai mekanisme untuk menunjukkan ikatan sosial dengan orang yang bersangkutan tanpa membedakan tingkat pendidikan. Komunikasi berhasil dilakukan jika pesan yang disampaikan komunikakator dapat dipahami dan dimengerti oleh lawan bicara, komunikan.
Seringkali komunikasi terganggu oleh persoalan bahasa, kata-kata yang sama mungkin mempunyai arti yang berbeda-beda bagi orang yang berbeda-beda. Persoalan bahasa lainnya ialah masalah logat daerah(in-group language) yang bersifat sangat teknik. Bahasa tersebut dapat memberikan kepada para anggotanya perasaan ikut memiliki, kesatupaduan, perasaan harga diri. Sehingga bahasa tersebut memudahkan komunikasi yang efektif dalam kelompok. Tetapi penggunaan bahasa dalam kelompok ini dapat menimbulkan kemacetan yang parah apabila orang luar atau kelompok lain terlibat di dalamnya. Perbedaan status juga dapat menimbulkan ancaman bagi seseorang yang lebih rendah kedudukannya dalam hierarki, yang dapat meyimpangkan komunikasi.
RUMUSAN MASALAH
Adakah kendala dalam berkomunikasi di dalam komunitas hunian liar (tepatnya di daerah Kandang Sapi pinggiran kali Anyar)?
TUJUAN
Melakukan observasi tentang komunikasi fatik di dalam hunian liar
Mengetahui tingkat kelancaran komunikasi di daerah hunian liar
Mengetahui cara berkomunikasi di derah hunian liar
Mengetahui apakah teori Behaviourisme turut andil dalam proses berkomunikasi yang efektif di dalam komunitas hunian liar
TINJAUAN PUSTAKA
Catatan Kaki : “Komunikasi fatik (phatic communication) ialah komunikasi basa-basi, biasa berupa bahasa lisan, atau sekedar bahasa tubuh seperti senyuman, anggukan, salaman, menanyakan kabar, ungkapan simpatik dll. Berfungsi untuk memberikan kenyamanan kepada diri sendiri maupun orang lain.” (Tubs, Stewart L, Moss Sylvia : 1996)
HASIL EMPIRIK
Berdasarkan hasil wawancara secara langsung ke salah satu warga di daerah komunitas liar di wilayah Surakarta tepatnya di pinggiran kali anyar. Kami menemukan data empiris tentang komunikasi fatik di dalam komunitas hunian liar. Yaitu :
Bahwa masyarakat di dalam komunitas hunian liar tidak memiliki kendala dalam berkomunikasi.
Kebiasaan di komunitas tersebut tidak jauh beda dengan kehidupan masyarakat dalam lingkup pedesaan, yang masih menjunjung rasa solidaritas dan gotong royong. Jika ada musyawarah atau pertemuan untuk menyelesaikan masalah yang menyangkut kepentingan bersama, ketua RT turut serta di undang.
Intensitas untuk bertemu sangat sering. Dikarenakan banyak penghuni hunian liar yang telah di PHK, jadi mereka sering menghabiskan waktu bersama untuk mengobrol. Menurut pengakuan narasumber yang adalah seorang Ibu yang merupakan seorang buruh cuci, beliau lebih sering bersosialisasi ketika setelah pulang kerja. Dan mereka lebih sering membicarakan masalah ekonomi dalam perbincangan tesebut.
Pergaulan anak mudanya juga tidak keluar batas norma adat, hukum dan agama. Dapat dikatakan tidak pernah ada masalah dalam pergaulan anak muda yang dapat meresahkan warga di sekitar hunian liar tersebut.
Menurut pengakuan salah satu penghuni liar itu juga, bahwa penghuni baru yang bertempat dan tinggal di sekitar wilayah hunian liar tidak pernah terbentur dalam melakukan adaptasinya.
Sesuai dengan ketentuan Perda, bahwa hunian liar di wilayah Surakarta harus di tertibkan, kemudian di peringatkan dan tindakan terakhir adalah penggusuran paksa. Di hunian liar tersebut yang terletak di pinggiran kali anyar juga terdapat desas-desus bahwa hunian liar tersebut akan di gusur oleh pemerintah setempat. Tetapi belum ada tanggapan berupa tindakan atau rencana dari para warganya. Dikarenakan pemerintahan setempat juga belum turun langsung kelapangan untuk memberikan peringatan akan adanya penggusuran. Para warga hunian liar yang masih bertahan akan pasrah jika benar-benar akan dilakukan penertiban tersebut. Mereka akan mencari tempat tinggal lain jika pemerintah kota setempat tidak memberikan tempat untuk mereka tinggal.
ANALISIS
Menurut hasil pengamatan yang kami peroleh, bahwa tidak terdapatnya kendala yang berarti dalam proses berkomunikasi disebabkan oleh latar belakang pendidikan yang rata-rata sama, yaitu tidak menempuh pendidikan tinggi. Anak-anak mereka pun hanya sebatas lulusan sekolah menengah atas. lancarnya komunikasi juga dikarenakan persamaan bahasa, dapat dikatakan bahwa semua penghuni disekitar hunian liar merupakan orang jawa asli, dan mereka menggunakan bahasa jawa sebagai alat berkomunkasi.
Dan kebiasaan yang terjadi juga disebabkan oleh beberapa hal berdasarkan teori Behaviourisme. Teori Behaviourisme ialah teori belajar yang lebih menekankan pada tingkah laku manusia, memandang manusia sebagai mahluk reaktif yang memberi respon terhadap lingkungan. Pengalaman dan pemeliharan akan membentuk prilaku mereka. Ciri-ciri teori ini adalah menekankan pada peranan lingkungan. Jadi, dapat disimpulkan bahwa prilaku-prilaku yang ada pada masyarakat komunitas hunian liar disebabkan oleh tindakan dan respon antara satu dengan yang lain yang sering dilakukan dan menjadi suatu kebiasaan atau tradisi. Penghuni baru pun akan mudah mengikuti dan menyesuaikan kebiasaan-kebiasaan ini. Contohnya adalah pergaulan para anak muda di sekitar hunian liar tersebut tidak pernah meresahkan masyarakat, hal ini di sebabkan oleh pendidikan agama yang ditanamkan oleh keluarga dengan menyuruh anak-anaknya mengikuti pendidikan agama di mushola setempat.
KESIMPULAN
Kesimpulan yang dapat kami ambil adalah bahwa di dalam komunitas liar di pinggiran kali anyar ini tidak terdapat kendala apapun dalam berkomunikasi fatik ataupun dalam berkomunikasi biasa. Hal ini dipengaruhi oleh latar belakang pendidikan yang tidak terlalu signifikan, menggunakan bahasa yang sama sebagai alat berkomunikasi, dan kebudayaan yang memang menjadikan mereka untuk ramah dan saling menyapa.
DAFTAR PUSTAKA
http://pedro.student.fkip.und.ac.id/2009/10/13/komunikasi-yang-efektif
Tubs, Stewart L, Moss Sylvia.1996. Human Communication Prinsip-Prinsip Dasar. Bandun: PT. Remaja Rosdkarya.





; ) , belum di fix niehh… But, I know I`ll do better later…!